MANOKWARI – Paguyuban Karisidenan Madiun (Karima) Manokwari baru saja merayakan hari jadinya yang ke-39 dengan penuh khidmat dan kebersamaan. Acara yang mengusung semangat kekeluargaan ini diselenggarakan di Aula Orchid Wosi pada Sabtu (31/1/2026).
Momen spesial ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Pj. Sekda Kabupaten Manokwari, Ketua Ikaswara, serta para pimpinan berbagai paguyuban dan kerukunan yang ada di wilayah Manokwari.
Sinergi dan Kontribusi untuk Kota
Dalam kesempatan tersebut, Pj. Sekda Manokwari, Yan Ayomi, yang hadir mewakili Bupati Manokwari, memberikan apresiasi tinggi terhadap eksistensi Karima. Ia menilai bahwa di usia hampir empat dekade, Karima telah menjadi teladan dalam menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.
"Karima telah membuktikan kemampuannya dalam menjaga soliditas dan kerukunan sosial. Peran aktif paguyuban ini sangat vital dalam mendukung pembangunan Kota Manokwari," ungkap Yan Ayomi saat membacakan sambutan tertulis Bupati.
Menuju Pribadi yang Mulia dan Penderma
Ketua Karima Manokwari, Ir. Bambang Tj. Harijadi, M.P, sempat menoleh sejenak ke belakang mengenang sejarah berdirinya paguyuban ini. Ia berharap agar ke depannya seluruh anggota Karima dapat mengimplementasikan semboyan organisasi dalam kehidupan sehari-hari.
"Harapan kami, warga Karima semakin mampu memuliakan sesama manusia dan alam, sesuai dengan slogan kita: mulia dan penderma," ajak Bambang sembari berterima kasih kepada pemerintah daerah atas dukungan yang selama ini diberikan.
Aspirasi Kolaborasi Paguyuban
Senada dengan hal tersebut, Ketua Ikaswara Manokwari, Suyanto, menitipkan pesan agar pemerintah daerah lebih luas dalam melibatkan paguyuban-paguyuban dalam berbagai agenda daerah. Mengingat saat ini terdapat sekitar 29 paguyuban di bawah Ikaswara yang sudah memiliki legalitas formal (Akta).
"Kami berharap keterlibatan paguyuban dalam kegiatan Pemda bisa lebih merata dan inklusif," ujar Suyanto.
Filosofi Jawa dan Gotong Royong
Ketua Panitia, Endra Prihartanto, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini mengangkat tema filosofis: ”Ngukir Guyub, Njangka Rukun, Nggayuh Bagya Mulya”.
Makna Tema: Sebuah upaya nyata untuk mengukir kebersamaan dan merajut kerukunan demi meraih kebahagiaan serta kesejahteraan bersama.
Menariknya, acara ini murni terselenggara berkat semangat gotong royong warga. Total dana sekitar Rp31 juta berhasil dikumpulkan secara swadaya dari anggota dan para donatur.
Kemeriahan acara ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng, berbagai pertunjukan seni tari, lomba-lomba seru, serta pembagian doorprize bagi warga yang hadir. (EAI)